Pandangan matanya nanar oleh air mata yang menggenang di pelupuk mata. Ia berharap apa yang ia dengar tadi hanya sebuah mimpi. Atau memang ia yang salah dengar, ini bukan pintu kamar kostan Dion. Mungkin saja Dion sudah pindah kamar, tapi lupa memberitahu dirinya. Semua sanggahan coba di keluarkan dari otaknya. Tapi entah kenapa hati kecilnya seolah tidak mau diajak kompromi. Hatinya yakin ini kamar yang tepat, yang di dalam kamar memang benar Dion dan Mega yang sedang bertengkar.
Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka menjelaskan semua yang berkecamuk di otaknya. Benar dilihatnya Dion yang berdiri membuka pintu hendak mengusir Mega keluar kamar. Semua terperanjat dan terkejut.
Arina mencoba berdiri dan ingin meninggalkan kostan, tapi ditahan oleh pegangan kuat tangan Dion. Dion membawa Arina masuk ke kamar kostan itu dan mendudukkan Arina di tempat tidur. Mega yang duduk bersebelahan dengan Arina hanya menangis dan mengucapkan kata-kata maaf dan penyesalan namun tidak tertangkap semua oleh telinga Arina.
Sebenarnya Arina sudah tidak butuh penjelasan lagi, ia sudah cukup sakit dengan apa yang baru saja didengar dan dilihat. Namun Dion dan Mega memaksa untuk mejelaskan apa yang telah terjadi. Perselingkuhan Dion yang sama sekali tidak disangkanya, perasaan Mega terhadap Dion yang dipendam tapi masih mencari cara untuk mendapatkannya. Hanya membuat kepalanya pusing.
Tidak ingin mendengar lebih banyak hal-hal yang menyakitkan, Arina menguatkan diri untuk pulang. Ia tidak ingin diantar, ia tidak butuh dikasihani. Melangkah perlahan meninggalkan kamar Dion dengan cucuran air mata yang membasahi pipinya, Arina memilih pulang naik taxi. Keheranan supir taxi tidak mengurangi jatuhnya air mata Arina. Susah Arina mengumpulkan suara untuk menyebutkan tujuan.
Dalam perjalanan pulang, kalimat-kalimat pertengkaran itu masih terus terngiang. Di tambah penjelasan tidak masuk akal dari Dion dan Mega yang membuatnya merasa benar-benar bodoh dan tertipu. Saat bersama yang dulunya manis, kini begitu hambar dan menyakitkan. Sandiwara panjang yang dimainkan oleh pacar dan sahabatnya, sudah membuat ia hancur terpuruk. Entah rasa seperti apa yang kini berkecamuk dan ingin dikeluarkan. Dalam tidak sadarnya, Arina berteriak kencang di dalam taxi. Supir taxi yang terkejut hanya memberhentikan pelan mobilnya. Mencoba memahami si penumpang.
“Maaf pak. Saya turun disini saja. Maaf yaaa”, ucap Arina akhirnya setelah tahu bahwa taxinya berhenti. Setelah membayar ongkos, ia lanjutkan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi itu dengan berjalan kaki.
Bertemu Roni dijalan, tidak menghilangkan rasa sakitnya. Dan entah mengapa rasa itu menjadi semakin sakit. Sekuat tenaga menghindar dari Roni, tapi Roni terlalu kuat untuk dihindari. Pertanyaan Roni yang banyak hanya dijawab dalam isakan tangisnya. Namun anggukan Arina saat ditanya apakah Dion yang menyebabkan semua ini sudah cukup bagi Roni. Setidaknya ia tahu siapa yang harus dia tuju untuk menjelaskan. Maka diantarkan Arina sampai ke rumah dan Roni langsung pamit pulang.
Roni tidak tinggal diam, dia pulang hanya untuk mengambil motornya di rumah dan langsung berangkat ke kostan Dion. Dia tahu dimana Dion ngekost. Niat hatinya ingin mendapat penjelasan dari Dion ternyata sia-sia. Dion tidak ada di kamarnya. Kata seorang teman yang sama ngekost disana bilang kalau Dion baru saja keluar. Tidak tahu kemana dan tidak pasti apakah akan segera kembali.
Saat di sekolah ia tidak melihat Arina dan Mega hadir, tapi juga tidak menaruh curiga apakah ada kesengajaan atau tidak. Mungkin karena kejadian semalam Arina masih enggan untuk ke sekolah pikirnya.
Di tempat lain, semalam Mega meminta Arina untuk datang bertemu denganya. Ada hal penting yang harus diketahui Arina tentang dirinya. Walaupun Arina yang sudah malas menanggapi sahabatnya itu, terpaksa ikut karena desakan memohon Mega.
Dan hal penting yang ingin disampaikan Mega adalah kehamilannya. Ia mengandung benihnya Dion yang telah dijaga selama tiga bulan ini. Bagai disambar petir apa yang Mega ucapkan, namun apapun itu ada sedikit rasa iba di hati Arina. Kemarahannya menguap begitu saja apalagi tahu bahwa Dion ingin menggugurkan kehamilan Mega. Dia tidak ingin ada anak dari Mega. Dion benar-benar merasa terpukul, tidak percaya dan perih hatinya. Mega juga menceritakan bahwa Dion masih sayang sama Arina, banyak angan yang ingin diwujudkan bersama Arina kelak. Tapi dengan kenyataan ini malah membuat Dion ingin memutuskan dan segera mencampakkan Mega serta bayi yang ada dikandungnya.
Dalam tangisan terisak, Mega memohon maaf dan meminta kepada Arina untuk melepas sekaligus mau membujuk Dion untuk segera menikahi dirinya. Bimbang, muak, sedih dan berat melakukannya. Tapi yang Arina tahu Dion harus bertanggung jawab. Sangat sulit, namun harus dilakukan. Segera di telpon Dion untuk datang ke tempat yang sama, Arina tidak mengatakan bahwa Mega juga ada bersamanya.
Dan tak lama Dion datang. Melihat Mega yang duduk bersama Arina, Dion heran dan marah membentak Mega. Dia bertanya mengapa harus ada Mega disana. Dengan kasar Dion menarik tangan Mega hendak mengusir agar pergi meninggalkan mereka. Namun dengan cepat Arina mencegah dan balik membentak Dion.
Dion sempat terkejut melihat reaksi Arina, namun akhirnya ikut duduk bersama. Emosi Dion yang sudah sedikit mereda menguatkan Arina untuk berbicara. Walaupun dalam sela-sela ucapan, selalu saja di potong oleh Dion yang mengutarakan permintaan maafnya.
Sangat sulit bagi mereka bertiga untuk saling berbicara, nada-nada kemarahan yang sering terlontar dari mulut Dion, Mega bahkan Arina. Dion berkeras tidak ingin anak Mega lahir ke dunia apalagi harus menikah, hatinya masih untuk Arina. Sedangkan Mega sangat butuh pertanggung jawaban Dion sebagai ayah untuk anaknya kelak. Dan mereka berdua meminta dukungan Arina atas keputusan masing-masing. Mereka tidak sadar bagaimana lukanya hati Arina dengan masalah ini. Mereka masih saja mengurus ego masing-masing tanpa bisa berucap dengan baik.
Dalam menahan tangisnya, Arina seperti memohon kepada Mega dan Dion untuk berhenti saling menyalahkan. Karena semua yang terjadi adalah atas salah mereka sendiri. Percuma mereka saling berteriak, yang telah terjadi harus terus dijalani. Tidak mungkin mundur untuk menghapus semua masa lalu. Hanya pilihan untuk menjalani semua dengan lebih baik dan bijak yang menjadi pilihan dan harus dipilih.
Sekuat hati Arina menolak kehadiran Dion kembali, hati Arina terlalu kuat untuk di goyah meskipun rasa sayang itu masih ada. Bagaimana pun Dion memohon maaf, hatinya tetap pada satu pendirian. Dion harus menikah dengan Mega dan secepat mungkin pergi dan menghilang dari kehidupannya. Tidak mungkin sanggup bagi Arina bila masih melihat Dion atau Mega di hari-harinya mendatang.
Dalam satu penjelasan panjang dari Arina, Dion dan Mega akhirnya tetap dalam satu keputusan. Mereka harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan. Dan meminta mereka untuk tidak mencari atau menghubungi Arina lagi. Arina ingin menghapus semua yang berhubungan dengan mereka. Sakit dan perihnya hati Arina tidak mungkin bisa di obati, kenangan yang melekat di hati dan pikirannya bagaimana mungkin bisa di buang jauh. Tangisan ibanya di mengerti oleh Dion dan Mega. Berjuta maaf yang terlontar dari mereka tidak sedikit pun mengurangi pedih hatinya.
Siang itu di akhiri dengan pamitan Arina kepada Mega dan Dion. Dia sudah tidak ingin ikut campur lagi dengan masalah keduanya. Semua sudah usai sejak ia beranjak pergi. Di sela langkah kakinya yang menjauh pergi, ia masih merasakan sakitnya pengkhianatan sahabat dan kekasihnya. Keheranan yang tidak mampu ia jelaskan mengiringi setiap detak jantungnya, bagaimana ia masih saja menyanggupi permintaan sahabatnya untuk membujuk Dion. Siapa seharusnya yang kecewa dan di tolong? Senyum getir Arina menyiratkan segala beban hatinya.
§§§
Kalimat-kalimat dan segala kenangan yang kembali terngiang di otak Arina hampir saja membuat ia ditabrak oleh kendaraan yang lewat. Untung saja ada tangan yang sigap menarik tubuhnya kembali ke pinggir. Rasa sedih dan bercampur terkejut menguasi Arina. Ia melihat kearah tangan yang memegang tangannya dengan kuat dan ternyata itu Roni. Roni yang menolongnya dari kecelakaan yang hampir terjadi.
Dengan sabar Roni meminta Arina untuk ikut dengannya. Walau sedikit terpaksa, Arina menurut. Roni mengajak Arina ke sebuah danau yang dulu sering menjadi tempat bermainnya dengan Arina sewaktu kecil. Roni mencoba mengingatkan Arina akan kenangan-kenangan masa lalu. Danau yang menjadi saksi segala harapan-harapan Roni untuk Arina. Dan tepat atau tidak, Roni mencoba mengungkapkan apa yang bergejolak di hatinya. Jujur ia akui bahwa dirinya begitu sayang kepada Arina, perasaan yang disimpan dan dijaga hanya untuk Arina kini semua ingin diungkapkan. Rasa bersalah yang tidak seharusnya diucapkan pun terlontar karena Roni merasa tidak mampu menjaga hati Arina dengan baik sehingga Arina merasakan sakit yang teramat dalam di hati. Ia ingin Arina tahu seperti apa perasaannya bila melihat Arina yang bersedih dan murung.
Sedikit demi sedikit Arina merasakan kehangatan dari ucapan Roni. Perih hatiya perlahan berganti dengan harapan yang baru dan lebih baik. Walaupun Arina tidak yakin hatinya akan bisa di obati dan sembuh, tapi ia berani memberi kesempatan kepada Roni untuk menghilangkan perihnya. Entah bagaimana keberanian itu muncul, namun ini sudah lebih dari cukup bagi Arina. Roni juga tahu bahwa tidak sepenuhnya Arina bisa membuka hati, tetapi ia akan tetap sabar menemani dan menunggu. Ia akan terus menunggu untuk mewujudkan harapan-harapannya.
Dalam pelukan hangat Roni, Arina lega dengan tangisannya…