Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Gak Penting Kok…

Tadi sempat malas untuk buka blog. Tapi entah kenapa kok malah jadi menilai sendiri. Dalam hati, “lo aja malas buka blog lo sendiri, apalagi orang lain.” Heeheeeheee…bener juga ya. Niatnya ni mau ganti template yang lebih menarik. Dipakein magnet atau apalah gitu yang bisa narik pokoknya (becanda).

Trus di setiap posting, pengennya ada gambar/photo yang bisa mewakili isi posting. Tapi…seperti yang pernah diceritakan bahwa gw gak bakat menggambar, maka gw putuskan untuk searching ngasal aja sesuai judul untuk cari gambar/photo yang kira-kira tepat.

Trus mau dipisahkan antara kisah nyata dan fiksi, biar gw juga gak kebanyakan ngayal. Sekalian juga mau dibuat sidebar untuk komentar biar gak usah cek dalam postingan.

Terusss…mau dibuat gallery kecil untuk mampang photo-photo hasil jepretan sendiri baik dari handphone maupun toycam gw. Hasil gak bagus udah pasti lah, bukan profesional. Karena gw punya hak penuh atas keberadaan blog ini, jadi gw bisa suka-suka, bebassshhh…. Haahaaahaaaa…

Namun…kendalanya adalah gw gak cukup kreatif untuk mendesain itu semua. Udah berjam-jam mencari template yang sekiranya cocok, sampai ini di tulis template tersebut belum berhasil ditemukan. Kalau siapa saja yang tersesat mampir disini dan bisa membantu. Mohon bantuannya…

Dari lubuk hati terdalam belum nyerah. Masih terus mencari. Semoga dapat. Biar gw gak bosan lagi untuk berkunjung ke blog gw ini. Terima kasih sudah membaca hal yang tidak penting ini :)

Angan Kenangan

Lagi gak pikirin mau pake judul apa di tulisan ini. Cuma pengen nulis aja biar otak agak lega. Abisnya udah brasa sempit banget, full of  idea but…

Maklum, hari ini masih sering bermimpi dan bernafas pun terasa sangat nyaman. Ada beberapa yang mengganjal di hati yang terdalam, tapi gak masalah lah. Toh ini yang orang-orang bilang dengan hidup. Dan gw sangat meng-amini ini. Ya, inilah hidup.

Saat penuh sesak, berharap agar sedikit lapang. Saat terasa begitu lapang, berharap ada yang mengisi kekosongan.

It’s my journey…

Malam ini seperti hari-hari yang lalu, keinginan menulis datang tiba-tiba. Bisa karena susah tidur atau pun mati gaya atau hal lain yang tidak di mengerti yang muncul dari hati. Bisa juga karena gak tau mau ngapain lagi dalam mengisi detik-detik yang tidak mungkin bisa di hentikan atau di ulang. Menjaga sedikit kesempatan yang ada agar tidak menjadi sia-sia.

Kalau ada beberapa bagian yang rancu dengan kesan khas tidak nyambung, mohon kembali di maklumi. Itu seni yang ada di diri, menulis hanya disaat ingin dan langsung tancap gasss! Tanpa draft, tanpa rencana, tanpa maksud apa-apa. Menurut sebagian kecil orang (kecil sekali), itu adalah anugerah. Anugerah yang diberi pencipta agar umat-Nya yang satu ini mampu mengekspresikan diri lewat tulisan. Ya, cukup lewat tulisan saja. Walaupun sempat berkeinginan besar menjadi seorang pelukis atau minimal bisa gambar… Punya sebuah gambar hasil karya sendiri yang bermakna. Namun semua itu hanya tinggal angan-kenangan. Angan-angan yang menjadi kenangan bahwa ia pernah diangankan.

Present…

Ada yang hati ingin ungkapkan tapi begitu kelu untuk diungkapkan disini. Maka disimpan saja sebagai sebuah rahasia hati tentang hari ini, perasaan ini, harapan ini…

Walaupun ingin, tapi nanti saja…

Next…

Hari ini masih meraba-raba apa yang benar-benar ingin di realisasikan. Terlalu banyak pemikiran, yang malah membuang detik berharga. Pernah merasa takut kalau-kalau menjadi bagian dari kebanyakan. Mencoba segala hal yang masih mungkin bisa dikerjakan, membuat hati lebih baik. Berharap apa yang di rasa mampu menjelma dalam wujud nyata. Semoga smua menjadi sesuatu yang berharga…

Semakin malam, sudah pukul 23.24 wib. Sering terjadi ketidaksinkronan antara gerak tangan, pikiran dan hati. Sudahi untuk malam ini, semoga esok dapat menulis dengan lebih tersusun dan teratur.

Semua ini tentang hati…

*Judul dipilih karena tidak punya pilihan lain. Heheeheeeheeee….

 

Angan tentang Perdamaian

Kadang ada rasa ingin merubah dunia bila melihat dan mendengar masih banyaknya orang-orang yang semakin sempit hatinya. Merubah semuanya ke arah yang lebih baik, hidup saling berdampingan, menghargai, menghormati dan menyayangi. Angan-angan… Ya, memang hanya angan-angan panjang dan dalam di setiap renungan kesendirian.

Entah bagaimana, sedih atau harus senang bila ada yang mengatakan semua yang dilakukan untuk membela tegaknya agama. Agama urusan yang sangat vertikal antara Tuhan dan hamba-Nya. Tidak menyalahkan dan malah mendukung orang-orang yang mampu bersyiar tentang agama yang indah ini untuk tetap tegak tetapi dengan cara-cara yang baik dan benar. Bagaimana memberitahu kepada mereka tentang indahnya agama ini bila anda memperkenalkannya dengan merusak dan begitu menakutkan. Setahu saya agama ini tidak begitu. Dan saya tidak bisa menutup mata dan pura-pura tidak peduli bila melihat banyaknya darah dan air mata yang tertumpah di bumi yang dicipta begitu indah untuk umat-Nya ini. Sepertinya bukan ini tujuan kita dihidupkan.

Dengan sadar  saya bilang bahwa saya bukanlah seorang yang mengetahui dengan tepat dan benar bagaimana agama dalam menilai, ilmu yang ku punya hanya sekedar untuk menjalani hidup ku dengan baik walaupun kadang itu masih salah. Saya terus memperbaiki diri dan pemahaman. Tapi saya punya hati yang diberikan begitu luas untuk menampung segala yang ada baik sedih, susah, senang, suka dan derita dalam sekali masa.

Ingin mengatakan kepada mereka semua bahwa jangan merusak apa yang telah diciptakan begitu indah oleh Sang Pencipta. Ada cara dan tahapan yang agama ajarkan kepada kita dalam menyelesaikan permasalahan hidup. Tidak sama bukan berarti musuh yang harus dihapus. Sadarkan diri bahwa Allah yang menciptakan semua dengan berbagai perbedaan.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah : 216)

Tidak dengan satu ayat diatas anda lalu berperang dengan yang berbeda dengan anda. Baca ayat selanjutnya dan keseluruhan dari Al-Quran yang menjadi tuntunan hidup anda. Pahami perang seperti apa yang dimaksud…

Dan saya rasa tidak mustahil merubah dunia bila bukan saya saja yang ingin. Bersama-sama kita merubah dunia kita menjadi dunia yang aman dan nyaman. Hidup berdampingan dengan segala perbedaan. Tidak ada yang kita butuhkan selain perdamaian di waktu yang semakin sempit untuk bisa tetap tinggal di dunia ini.

Selesaikan urusan yang bisa kita selesaikan, biarkan selebihnya menjadi urusan Allah dalam menentukan.

 

Salam damai untuk seluruh penghuni bumi

Arina Part II

Pandangan matanya nanar oleh air mata yang menggenang di pelupuk mata. Ia berharap apa yang ia dengar tadi hanya sebuah mimpi. Atau memang ia yang salah dengar, ini bukan pintu kamar kostan Dion. Mungkin saja Dion sudah pindah kamar, tapi lupa memberitahu dirinya. Semua sanggahan coba di keluarkan dari otaknya. Tapi entah kenapa hati kecilnya seolah tidak mau diajak kompromi. Hatinya yakin ini kamar yang tepat, yang di dalam kamar memang benar Dion dan Mega yang sedang bertengkar.

Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka menjelaskan semua yang berkecamuk di otaknya. Benar dilihatnya Dion yang berdiri membuka pintu hendak mengusir Mega keluar kamar. Semua terperanjat dan terkejut.

Arina mencoba berdiri dan ingin meninggalkan kostan, tapi ditahan oleh pegangan kuat tangan Dion. Dion membawa Arina masuk ke kamar kostan itu dan mendudukkan Arina di tempat tidur. Mega yang duduk bersebelahan dengan Arina hanya menangis dan mengucapkan kata-kata maaf dan penyesalan namun tidak tertangkap semua oleh telinga Arina.

Sebenarnya Arina sudah tidak butuh penjelasan lagi, ia sudah cukup sakit dengan apa yang baru saja didengar dan dilihat. Namun Dion dan Mega memaksa untuk mejelaskan apa yang telah terjadi. Perselingkuhan Dion yang sama sekali tidak disangkanya, perasaan Mega terhadap Dion yang dipendam tapi masih mencari cara untuk mendapatkannya. Hanya membuat kepalanya pusing.

Tidak ingin mendengar lebih banyak hal-hal yang menyakitkan, Arina menguatkan diri untuk pulang. Ia tidak ingin diantar, ia tidak butuh dikasihani. Melangkah perlahan meninggalkan kamar Dion dengan cucuran air mata yang membasahi pipinya, Arina memilih pulang naik taxi. Keheranan supir taxi tidak mengurangi jatuhnya air mata Arina. Susah Arina mengumpulkan suara untuk menyebutkan tujuan.

Dalam perjalanan pulang, kalimat-kalimat pertengkaran itu masih terus terngiang. Di tambah penjelasan tidak masuk akal dari Dion dan Mega yang membuatnya merasa benar-benar bodoh dan tertipu. Saat bersama yang dulunya manis, kini begitu hambar dan menyakitkan. Sandiwara panjang yang dimainkan oleh pacar dan sahabatnya, sudah membuat ia hancur terpuruk. Entah rasa seperti apa yang kini berkecamuk dan ingin dikeluarkan. Dalam tidak sadarnya, Arina berteriak kencang di dalam taxi. Supir taxi yang terkejut hanya memberhentikan pelan mobilnya. Mencoba memahami si penumpang.

“Maaf pak. Saya turun disini saja. Maaf yaaa”, ucap Arina akhirnya setelah tahu bahwa taxinya berhenti. Setelah membayar ongkos, ia lanjutkan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi itu dengan berjalan kaki.

Bertemu Roni dijalan, tidak menghilangkan rasa sakitnya. Dan entah mengapa rasa itu menjadi semakin sakit. Sekuat tenaga menghindar dari Roni, tapi Roni terlalu kuat untuk dihindari. Pertanyaan Roni yang banyak hanya dijawab dalam isakan tangisnya. Namun anggukan Arina saat ditanya apakah Dion yang menyebabkan semua ini sudah cukup bagi Roni. Setidaknya ia tahu siapa yang harus dia tuju untuk menjelaskan. Maka diantarkan Arina sampai ke rumah dan Roni langsung pamit pulang.

Roni tidak tinggal diam, dia pulang hanya untuk mengambil motornya di rumah dan langsung berangkat ke kostan Dion. Dia tahu dimana Dion ngekost. Niat hatinya ingin mendapat penjelasan dari Dion ternyata sia-sia. Dion tidak ada di kamarnya. Kata seorang teman yang sama ngekost disana bilang kalau Dion baru saja keluar. Tidak tahu kemana dan tidak pasti apakah akan segera kembali.

Saat di sekolah ia tidak melihat Arina dan Mega hadir, tapi juga tidak menaruh curiga apakah ada kesengajaan atau tidak. Mungkin karena kejadian semalam Arina masih enggan untuk ke sekolah pikirnya.

Di tempat lain, semalam Mega meminta Arina untuk datang bertemu denganya. Ada hal penting yang harus diketahui Arina tentang dirinya. Walaupun Arina yang sudah malas menanggapi sahabatnya itu, terpaksa ikut karena desakan memohon Mega.

Dan hal penting yang ingin disampaikan Mega adalah kehamilannya. Ia mengandung benihnya Dion yang telah dijaga selama tiga bulan ini. Bagai disambar petir apa yang Mega ucapkan, namun apapun itu ada sedikit rasa iba di hati Arina. Kemarahannya menguap begitu saja apalagi tahu bahwa Dion ingin menggugurkan kehamilan Mega. Dia tidak ingin ada anak dari Mega. Dion benar-benar merasa terpukul, tidak percaya dan perih hatinya. Mega juga menceritakan bahwa Dion masih sayang sama Arina, banyak angan yang ingin diwujudkan bersama Arina kelak. Tapi dengan kenyataan ini malah membuat Dion ingin memutuskan dan segera mencampakkan Mega serta bayi yang ada dikandungnya.

Dalam tangisan terisak, Mega memohon maaf dan meminta kepada Arina untuk melepas sekaligus mau membujuk Dion untuk segera menikahi dirinya. Bimbang, muak, sedih dan berat melakukannya. Tapi yang Arina tahu Dion harus bertanggung jawab. Sangat sulit, namun harus dilakukan. Segera di telpon Dion untuk datang ke tempat yang sama, Arina tidak mengatakan bahwa Mega juga ada bersamanya.

Dan tak lama Dion datang. Melihat Mega yang duduk bersama Arina, Dion heran dan marah membentak Mega. Dia bertanya mengapa harus ada Mega disana. Dengan kasar Dion menarik tangan Mega hendak mengusir agar pergi meninggalkan mereka. Namun dengan cepat Arina mencegah dan balik membentak Dion.

Dion sempat terkejut melihat reaksi Arina, namun akhirnya ikut duduk bersama. Emosi Dion yang sudah sedikit mereda menguatkan Arina untuk berbicara. Walaupun dalam sela-sela ucapan, selalu saja di potong oleh Dion yang mengutarakan permintaan maafnya.

Sangat sulit bagi mereka bertiga untuk saling berbicara, nada-nada kemarahan yang sering terlontar dari mulut Dion, Mega bahkan Arina. Dion berkeras tidak ingin anak Mega lahir ke dunia apalagi harus menikah, hatinya masih untuk Arina. Sedangkan Mega sangat butuh pertanggung jawaban  Dion sebagai ayah untuk anaknya kelak. Dan mereka berdua meminta dukungan Arina atas keputusan masing-masing. Mereka tidak sadar bagaimana lukanya hati Arina dengan masalah ini. Mereka masih saja  mengurus ego masing-masing tanpa bisa berucap dengan baik.

Dalam menahan tangisnya, Arina seperti memohon kepada Mega dan Dion untuk berhenti saling menyalahkan. Karena semua yang terjadi adalah atas salah mereka sendiri. Percuma mereka saling berteriak, yang telah terjadi harus terus dijalani. Tidak mungkin mundur untuk menghapus semua masa lalu. Hanya pilihan untuk menjalani semua dengan lebih baik dan bijak yang menjadi pilihan dan harus dipilih.

Sekuat hati Arina menolak kehadiran Dion kembali, hati Arina terlalu kuat untuk di goyah meskipun rasa sayang itu masih ada. Bagaimana pun Dion memohon maaf, hatinya tetap pada satu pendirian. Dion harus menikah dengan Mega dan secepat mungkin pergi dan menghilang dari kehidupannya. Tidak mungkin sanggup bagi Arina bila masih melihat Dion atau Mega di hari-harinya mendatang.

Dalam satu penjelasan panjang dari Arina, Dion dan Mega akhirnya tetap dalam satu keputusan. Mereka harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan. Dan meminta mereka untuk tidak mencari atau menghubungi Arina lagi. Arina ingin menghapus semua yang berhubungan dengan mereka. Sakit dan perihnya hati Arina tidak mungkin bisa di obati, kenangan yang melekat di hati dan pikirannya bagaimana mungkin bisa di buang jauh. Tangisan ibanya di mengerti oleh Dion dan Mega. Berjuta maaf yang terlontar dari mereka tidak sedikit pun mengurangi pedih hatinya.

Siang itu di akhiri dengan pamitan Arina kepada Mega dan Dion. Dia sudah tidak ingin ikut campur lagi dengan masalah keduanya. Semua sudah usai sejak ia beranjak pergi. Di sela langkah kakinya yang menjauh pergi, ia masih merasakan sakitnya pengkhianatan sahabat dan kekasihnya. Keheranan yang tidak mampu ia jelaskan mengiringi setiap detak jantungnya, bagaimana ia masih saja menyanggupi permintaan sahabatnya untuk membujuk Dion. Siapa seharusnya yang kecewa dan di tolong? Senyum getir Arina menyiratkan segala beban hatinya.

§§§

Kalimat-kalimat dan segala kenangan yang kembali terngiang di otak Arina hampir saja membuat ia ditabrak oleh kendaraan yang lewat. Untung saja ada tangan yang sigap menarik tubuhnya kembali ke pinggir. Rasa sedih dan bercampur terkejut menguasi Arina. Ia melihat kearah tangan yang memegang tangannya dengan kuat dan ternyata itu Roni. Roni yang menolongnya dari kecelakaan yang hampir terjadi.

Dengan sabar Roni meminta Arina untuk ikut dengannya. Walau sedikit terpaksa, Arina menurut. Roni mengajak Arina ke sebuah danau yang dulu sering menjadi tempat bermainnya dengan Arina sewaktu kecil. Roni mencoba mengingatkan Arina akan kenangan-kenangan masa lalu. Danau yang menjadi saksi segala harapan-harapan Roni untuk Arina. Dan tepat atau tidak, Roni mencoba mengungkapkan apa yang bergejolak di hatinya. Jujur ia akui bahwa dirinya begitu sayang kepada Arina, perasaan yang disimpan dan dijaga hanya untuk Arina kini semua ingin diungkapkan. Rasa bersalah yang tidak seharusnya diucapkan pun terlontar karena Roni merasa tidak mampu menjaga hati Arina dengan baik sehingga Arina merasakan sakit yang teramat dalam di hati. Ia ingin Arina tahu seperti apa perasaannya bila melihat Arina yang bersedih dan murung.

Sedikit demi sedikit Arina merasakan kehangatan dari ucapan Roni. Perih hatiya perlahan berganti dengan harapan yang baru dan lebih baik. Walaupun Arina tidak yakin hatinya akan bisa di obati dan sembuh, tapi ia berani memberi kesempatan kepada Roni untuk menghilangkan perihnya. Entah bagaimana keberanian itu muncul, namun ini sudah lebih dari cukup bagi Arina. Roni juga tahu bahwa tidak sepenuhnya Arina bisa membuka hati, tetapi ia akan tetap sabar menemani dan menunggu. Ia akan terus menunggu untuk mewujudkan harapan-harapannya.

Dalam pelukan hangat Roni, Arina lega dengan tangisannya…

Arina Pat I

“Ron, kamu sudah selesai belum? Aku pulang duluan ya?”, Tanya Arina kepada Roni.

Sambil membereskan buku-buku yang berantakan di meja, Roni memperhatikan wajah sahabatnya itu. Gambaran wajah yang jenuh dan tidak semangat. Roni seperti kehilangan akal untuk membantu sahabatnya. Sejak kejadian itu, kejadian yang hampir setahun berlalu memang membawa perubahan pada Arina. Sifat periangnya sudah tidak ada lagi, jarang mengobrol bahkan keluar rumah pun bila tidak diajak ia tidak akan keluar.

Dan hari ini belajar kelompok menjadi satu-satunya alasan bagi Roni untuk mengajak Rina keluar rumah. Sudah cukup lama ia berusaha agar Arina bisa kembali seperti dahulu. Kembali dengan teman-teman dan kegiatannya. Namun ia yang sudah berteman lama dengan Arina tahu betul bagaimana perasaan sahabatnya itu. Perasaan yang  hancur berkeping-keping dan dipenuhi dengan rasa penyesalan.

“Kenapa sih Rin, baru juga setengah jam…?”, Roni bertanya berharap mendapat jawaban yang tepat.

Namun Arina hanya menatap tanpa arti kearah Roni. Tidak ada sepatah kata yang terlontar. Roni menjadi sedikit gusar. Ia pun segera berdiri dan berjalan lebih mendekat kearah Arina.

Tatapan tajam mata Roni tidak diperhatikan oleh Arina, karena ia hanya melihat kearah lantai. Sambil mengguncang-guncang bahu sahabatnya itu, dengan nada keras Roni bertanya, “Kamu kenapa? Masih masalah yang lalu itu? Kamu sadar dong, kejadian itu udah setahun yang lalu. Jangan bodoh!”

Arina yang takut dengan suara tinggi Roni, tiba-tiba menangis pelan. Ia tepis tangan Roni yang masih menggenggam bahunya dan berlari keluar. Ia sedih, marah dan kecewa…

Melihat reaksi Arina, Roni hanya terdiam,terlintas rasa ingin menahan dan mengejar tapi kakinya terlalu berat untuk di langkahkan. Mungkin kemarahan dan ego yang masih tersisa membuat langkahnya berat. Maka dengan bingung dilampiaskan kemarahannya ke kursi yang ada didekatnya dengan satu tendangan kuat. Sedikit lega atau tersadar dengan rasa sakitnya, timbul perasaan bersalah karena membentak Arina seperti tadi. Tidak seharusnya ia ungkit masalah yang memang benar-benar telah membuat sahabatnya itu hancur. Walaupun di lain sisi ia ingin melihat Arina kembali seperti dulu. Arina yang ceria dan selalu tersenyum. Arina yang bisa meninggalkan masa lalu bagai sebuah cerita dan berani melangkah ringan menuju masa depan. Tapi caranya tidak seperti tadi.

§§§

Terlintas kembali ingatan dua tahun yang lalu, antara Arina, Dion dan Mega. Ada titik-titik penyesalan di hati Roni, mungkin ini terjadi atas kesalahannya juga. Dia yang yakin dengan hatinya tapi terlalu cuek dengan hati Arina kepadanya. Khayalan bahwa Arina akan membalas cintanya karena persahabatan mereka yang telah terjalin lama, bahkan dari mereka kecil. Maka dia merasa bahwa Arina tahu isi hatinya tanpa perlu ia perlihatkan dan utarakan.

Ternyata kenyataan menjadi berbeda bagi mereka yang tidak bergerak menuju mimpinya. Dan memang itu yang berlaku kini, khayalan tinggallah khayalan. Rasa manis yang dulu dirasa saat mengkhayalkan itu kini berubah menjadi pahit. Kepahitan hidup yang harus benar-benar di kecap dalam nyatanya dunia.

§§§

Masa-masa SMU diakui sebagai masa yang penuh dengan gejolak dan semangat. Ingin tahu ini itu dan ingin merasakan ini itu. Fase menuju puber hingga puncaknya puber, ada di masa SMU. Dan itu pulalah yang membawa Arina ke jalan lain hidupnya kini.

Bermula dari Arina dan Mega yang sudah saling kenal sejak SMP karena mereka satu sekolah. Dan menjadi lebih dekat lagi karena kebetulan mereka berada di kelas yang sama saat kelas satu SMU. Pertemanan yang terjalin pun ala masa mereka yang penuh keceriaan dan segudang aktifitas.

Dan ketertarikan dengan kakak kelas sudah menjadi hal biasa. Dan memang selalu seperti itu. Arina salah satunya. Ia begitu tertarik dengan pesona kakak kelasnya yang bernama Dion. Awal bertemu saat Arina mendapat hukuman membersihkan ruangan kantin. Kantin yang memang di sengaja dijadikan tempat hukuman saat ospek sudah dipenuhi sampah yang berserakan. Sebenarnya selain Arina ada lima orang temannya lagi yang juga mendapat hukuman serupa. Dan Dion menjadi pengawas kerja mereka serta menilai apakah tugas masing-masing anak sudah selesai atau belum.

Dalam satu peristiwa, kelima temannya yang lain sudah dibebaskan dari hukuman. Hanya tinggal Arina sendiri yang masih saja di hukum.

“Emang, kesalahan kamu tadi apa sih? Kok ada catatan kamu harus disini sampai setengah jam?”, tanya Dion tiba-tiba kepada Arina.

“Ehmmm…tadi pagi bantuin temen yang di hukum, kak…”

Doni heran dengan jawaban Arina, ia tidak percaya dengan alasan yang dilontarkan Arina kepadanya. Sambil berpikir, ia memutuskan untuk menyudahi hukuman walaupun alasan terbesarnya adalah rasa bosan.

“Udahlah. Hukuman kamu selesai. Balik ke kelompok ya…”, kata Dion dengan bosan.

“Oiya, nama kamu siapa?” Dion mengulurkan tangan untuk berkenalan.

“Arina…kak”, balas Arina sambil menjabat tangan Dion.

“O, Arina ya… Cuma mau bilang kalo kamu tuh cantik”, ucap Dion enteng.

Sambil berlalu Dion tersenyum ke arah Arina. Lambaian tangan pun menjadi penutup perkenalan singkat akibat hukuman itu.

Kata-kata singkat itu menjadi sangat berarti bagi Arina. Belum pernah ada seorang cowok yang memujinya secara terang-terangan. Dia menilai bahwa Dion sosok pria pemberani seperti yang diidamkannya banyak orang dan kini seolah hadir. Kegundahan hatinya yang masih bimbang dengan perasaan Roni kepadanya terhapus sudah. Tidak lagi ia peduli dengan sikap Roni yang kadang cuek dan kadang sangat perhatian. Ia tahu siapa yang kini ingin dia tuju.

Hati yang baru mencoba tumbuh di tengah gejolak cinta pertama dan begitu meluap-luap akhirnya mendapat balasan cinta dari sang arjuna. Penantian panjang selama satu semester akhirnya terjawab. Dion sang arjuna pujaan Arina menerima cintanya. Maka mekar dan bersemi lah cinta monyet ini.

Hubungan mereka termasuk hubungan yang awet, pertengkaran memang tidak luput dari hubungan mereka tetapi selalu baik kembali setelah salah satu meminta maaf. Hari-hari berlalu di sekolah hingga akhirnya Dion lulus. Arina senang bisa menemani Dion dalam menghadapi ujian akhir nasional. Dion pun berterima kasih kepada Arina yang selalu mengingatkannya untuk jaga kesehatan, belajar yang tekun dan memberi perhatian-perhatian yang membuatnya merasa semangat.

Dan Dion akhirnya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri yang ternama. Walaupun sudah tidak bisa sama-sama seperti dahulu, Arina memakluminya. Karena dalam beberapa kesempatan, Dion masih bisa menyempatkan diri untuk mampir ke sekolah sekedar mengantar pulang. Walaupun ada masa-masa Arina merasa Dion sedikit menjauh saat kuliah, tapi itu tidak di pusingkannya. Ia hanya menganggap bahwa Dion memang sibuk dan butuh konsentrasi lebih untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Karena Dion juga sempat bercerita tentang tugas-tugas kuliahnya yang banyak. Arina juga tidak menawarkan bantuan. Tugas-tugas sekolahnya saja kadang Dion yang bantu menyelesaikan.

§§§

Sambil menangis Arina masih terus berjalan menjauh pergi dan terhenti saat ia bingung telah berada di persimpangan jalan. Di hapus sisa-sisa air matanya di pipi dan berpikir sejenak menebak di daerah mana ia sekarang sehingga bisa memilih untuk belok kanan, kiri atau terus saja. Ia yang kadang kala sadar akan tindakan dan sikapnya yang bodoh juga mempunyai keinginan untuk segera bangkit dan melupakan, tetapi entah mengapa selalu gagal dan malah semakin terpuruk.

Bayang-bayang kejadian malam itu selalu berputar di kepalanya, bahkan saat tidur pun bayang suram itu seolah enggan untuk pergi. Menempel erat di kepalanya sekeras apapun usahanya untuk melepaskan.

“Di, kamu jangan diam saja. Jawab aku!”

“Mau kamu apa Ga???”

“Segera putuskan Arina, aku sudah tidak bisa bersabar lagi. Kamu sudah janjiii! Kamu ingat kan?!”

“Ya, aku ingat. Jelas sekali aku ingat.”

“Terus, mana buktinya? Dion, sudah banyak yang aku kasih ke kamu, aku turuti semua mau kamu. Tapi apa?”

Nada-nada pertengkaran di kamar kostan Dion yang tidak sengaja di dengar oleh Arina yang awalnya hendak memberi kejutan malah benar-benar terkejut. Dia mengenal dua suara orang yang ada di dalam kamar itu. Dia hafal betul dengan suara Dion dan satu lagi dengan tidak percaya ia tahu bahwa itu suara Mega. Berjuta pertanyaan timbul dalam benaknya dan yang pasti ia rasakan adalah rasa marah dan kecewa yang besar.

Tidak pernah ia mendengar suara keras Dion bahkan selama dua tahun mereka pacaran. Sosok Dion yang sabar, baik dan sopan mana mungkin mampu membentak Mega. Mega adalah sahabatnya, Dion tahu betul itu. Tapi mengapa bisa Mega ada di kamar Dion? Apa yang tengah terjadi. Arina tidak berani menduga-duga lebih jauh. Kakinya lemas dan tidak mampu di gerakkan.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.