“Ron, kamu sudah selesai belum? Aku pulang duluan ya?”, Tanya Arina kepada Roni.
Sambil membereskan buku-buku yang berantakan di meja, Roni memperhatikan wajah sahabatnya itu. Gambaran wajah yang jenuh dan tidak semangat. Roni seperti kehilangan akal untuk membantu sahabatnya. Sejak kejadian itu, kejadian yang hampir setahun berlalu memang membawa perubahan pada Arina. Sifat periangnya sudah tidak ada lagi, jarang mengobrol bahkan keluar rumah pun bila tidak diajak ia tidak akan keluar.
Dan hari ini belajar kelompok menjadi satu-satunya alasan bagi Roni untuk mengajak Rina keluar rumah. Sudah cukup lama ia berusaha agar Arina bisa kembali seperti dahulu. Kembali dengan teman-teman dan kegiatannya. Namun ia yang sudah berteman lama dengan Arina tahu betul bagaimana perasaan sahabatnya itu. Perasaan yang hancur berkeping-keping dan dipenuhi dengan rasa penyesalan.
“Kenapa sih Rin, baru juga setengah jam…?”, Roni bertanya berharap mendapat jawaban yang tepat.
Namun Arina hanya menatap tanpa arti kearah Roni. Tidak ada sepatah kata yang terlontar. Roni menjadi sedikit gusar. Ia pun segera berdiri dan berjalan lebih mendekat kearah Arina.
Tatapan tajam mata Roni tidak diperhatikan oleh Arina, karena ia hanya melihat kearah lantai. Sambil mengguncang-guncang bahu sahabatnya itu, dengan nada keras Roni bertanya, “Kamu kenapa? Masih masalah yang lalu itu? Kamu sadar dong, kejadian itu udah setahun yang lalu. Jangan bodoh!”
Arina yang takut dengan suara tinggi Roni, tiba-tiba menangis pelan. Ia tepis tangan Roni yang masih menggenggam bahunya dan berlari keluar. Ia sedih, marah dan kecewa…
Melihat reaksi Arina, Roni hanya terdiam,terlintas rasa ingin menahan dan mengejar tapi kakinya terlalu berat untuk di langkahkan. Mungkin kemarahan dan ego yang masih tersisa membuat langkahnya berat. Maka dengan bingung dilampiaskan kemarahannya ke kursi yang ada didekatnya dengan satu tendangan kuat. Sedikit lega atau tersadar dengan rasa sakitnya, timbul perasaan bersalah karena membentak Arina seperti tadi. Tidak seharusnya ia ungkit masalah yang memang benar-benar telah membuat sahabatnya itu hancur. Walaupun di lain sisi ia ingin melihat Arina kembali seperti dulu. Arina yang ceria dan selalu tersenyum. Arina yang bisa meninggalkan masa lalu bagai sebuah cerita dan berani melangkah ringan menuju masa depan. Tapi caranya tidak seperti tadi.
§§§
Terlintas kembali ingatan dua tahun yang lalu, antara Arina, Dion dan Mega. Ada titik-titik penyesalan di hati Roni, mungkin ini terjadi atas kesalahannya juga. Dia yang yakin dengan hatinya tapi terlalu cuek dengan hati Arina kepadanya. Khayalan bahwa Arina akan membalas cintanya karena persahabatan mereka yang telah terjalin lama, bahkan dari mereka kecil. Maka dia merasa bahwa Arina tahu isi hatinya tanpa perlu ia perlihatkan dan utarakan.
Ternyata kenyataan menjadi berbeda bagi mereka yang tidak bergerak menuju mimpinya. Dan memang itu yang berlaku kini, khayalan tinggallah khayalan. Rasa manis yang dulu dirasa saat mengkhayalkan itu kini berubah menjadi pahit. Kepahitan hidup yang harus benar-benar di kecap dalam nyatanya dunia.
§§§
Masa-masa SMU diakui sebagai masa yang penuh dengan gejolak dan semangat. Ingin tahu ini itu dan ingin merasakan ini itu. Fase menuju puber hingga puncaknya puber, ada di masa SMU. Dan itu pulalah yang membawa Arina ke jalan lain hidupnya kini.
Bermula dari Arina dan Mega yang sudah saling kenal sejak SMP karena mereka satu sekolah. Dan menjadi lebih dekat lagi karena kebetulan mereka berada di kelas yang sama saat kelas satu SMU. Pertemanan yang terjalin pun ala masa mereka yang penuh keceriaan dan segudang aktifitas.
Dan ketertarikan dengan kakak kelas sudah menjadi hal biasa. Dan memang selalu seperti itu. Arina salah satunya. Ia begitu tertarik dengan pesona kakak kelasnya yang bernama Dion. Awal bertemu saat Arina mendapat hukuman membersihkan ruangan kantin. Kantin yang memang di sengaja dijadikan tempat hukuman saat ospek sudah dipenuhi sampah yang berserakan. Sebenarnya selain Arina ada lima orang temannya lagi yang juga mendapat hukuman serupa. Dan Dion menjadi pengawas kerja mereka serta menilai apakah tugas masing-masing anak sudah selesai atau belum.
Dalam satu peristiwa, kelima temannya yang lain sudah dibebaskan dari hukuman. Hanya tinggal Arina sendiri yang masih saja di hukum.
“Emang, kesalahan kamu tadi apa sih? Kok ada catatan kamu harus disini sampai setengah jam?”, tanya Dion tiba-tiba kepada Arina.
“Ehmmm…tadi pagi bantuin temen yang di hukum, kak…”
Doni heran dengan jawaban Arina, ia tidak percaya dengan alasan yang dilontarkan Arina kepadanya. Sambil berpikir, ia memutuskan untuk menyudahi hukuman walaupun alasan terbesarnya adalah rasa bosan.
“Udahlah. Hukuman kamu selesai. Balik ke kelompok ya…”, kata Dion dengan bosan.
“Oiya, nama kamu siapa?” Dion mengulurkan tangan untuk berkenalan.
“Arina…kak”, balas Arina sambil menjabat tangan Dion.
“O, Arina ya… Cuma mau bilang kalo kamu tuh cantik”, ucap Dion enteng.
Sambil berlalu Dion tersenyum ke arah Arina. Lambaian tangan pun menjadi penutup perkenalan singkat akibat hukuman itu.
Kata-kata singkat itu menjadi sangat berarti bagi Arina. Belum pernah ada seorang cowok yang memujinya secara terang-terangan. Dia menilai bahwa Dion sosok pria pemberani seperti yang diidamkannya banyak orang dan kini seolah hadir. Kegundahan hatinya yang masih bimbang dengan perasaan Roni kepadanya terhapus sudah. Tidak lagi ia peduli dengan sikap Roni yang kadang cuek dan kadang sangat perhatian. Ia tahu siapa yang kini ingin dia tuju.
Hati yang baru mencoba tumbuh di tengah gejolak cinta pertama dan begitu meluap-luap akhirnya mendapat balasan cinta dari sang arjuna. Penantian panjang selama satu semester akhirnya terjawab. Dion sang arjuna pujaan Arina menerima cintanya. Maka mekar dan bersemi lah cinta monyet ini.
Hubungan mereka termasuk hubungan yang awet, pertengkaran memang tidak luput dari hubungan mereka tetapi selalu baik kembali setelah salah satu meminta maaf. Hari-hari berlalu di sekolah hingga akhirnya Dion lulus. Arina senang bisa menemani Dion dalam menghadapi ujian akhir nasional. Dion pun berterima kasih kepada Arina yang selalu mengingatkannya untuk jaga kesehatan, belajar yang tekun dan memberi perhatian-perhatian yang membuatnya merasa semangat.
Dan Dion akhirnya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri yang ternama. Walaupun sudah tidak bisa sama-sama seperti dahulu, Arina memakluminya. Karena dalam beberapa kesempatan, Dion masih bisa menyempatkan diri untuk mampir ke sekolah sekedar mengantar pulang. Walaupun ada masa-masa Arina merasa Dion sedikit menjauh saat kuliah, tapi itu tidak di pusingkannya. Ia hanya menganggap bahwa Dion memang sibuk dan butuh konsentrasi lebih untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Karena Dion juga sempat bercerita tentang tugas-tugas kuliahnya yang banyak. Arina juga tidak menawarkan bantuan. Tugas-tugas sekolahnya saja kadang Dion yang bantu menyelesaikan.
§§§
Sambil menangis Arina masih terus berjalan menjauh pergi dan terhenti saat ia bingung telah berada di persimpangan jalan. Di hapus sisa-sisa air matanya di pipi dan berpikir sejenak menebak di daerah mana ia sekarang sehingga bisa memilih untuk belok kanan, kiri atau terus saja. Ia yang kadang kala sadar akan tindakan dan sikapnya yang bodoh juga mempunyai keinginan untuk segera bangkit dan melupakan, tetapi entah mengapa selalu gagal dan malah semakin terpuruk.
Bayang-bayang kejadian malam itu selalu berputar di kepalanya, bahkan saat tidur pun bayang suram itu seolah enggan untuk pergi. Menempel erat di kepalanya sekeras apapun usahanya untuk melepaskan.
“Di, kamu jangan diam saja. Jawab aku!”
“Mau kamu apa Ga???”
“Segera putuskan Arina, aku sudah tidak bisa bersabar lagi. Kamu sudah janjiii! Kamu ingat kan?!”
“Ya, aku ingat. Jelas sekali aku ingat.”
“Terus, mana buktinya? Dion, sudah banyak yang aku kasih ke kamu, aku turuti semua mau kamu. Tapi apa?”
Nada-nada pertengkaran di kamar kostan Dion yang tidak sengaja di dengar oleh Arina yang awalnya hendak memberi kejutan malah benar-benar terkejut. Dia mengenal dua suara orang yang ada di dalam kamar itu. Dia hafal betul dengan suara Dion dan satu lagi dengan tidak percaya ia tahu bahwa itu suara Mega. Berjuta pertanyaan timbul dalam benaknya dan yang pasti ia rasakan adalah rasa marah dan kecewa yang besar.
Tidak pernah ia mendengar suara keras Dion bahkan selama dua tahun mereka pacaran. Sosok Dion yang sabar, baik dan sopan mana mungkin mampu membentak Mega. Mega adalah sahabatnya, Dion tahu betul itu. Tapi mengapa bisa Mega ada di kamar Dion? Apa yang tengah terjadi. Arina tidak berani menduga-duga lebih jauh. Kakinya lemas dan tidak mampu di gerakkan.